Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Berantai di Kulon Progo
Awal tahun 2026 dibuka dengan pengingat pahit tentang bagaimana kepercayaan sesat, obsesi kekayaan instan, dan pengkhianatan kepercayaan dapat berujung pada tragedi kemanusiaan. Kasus yang terjadi di wilayah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan rangkaian kejahatan terencana yang menelan dua korban jiwa dan hampir menambah daftar korban lainnya, simak selengkapnya disini di nationspy
Tulisan ini merupakan rekonstruksi naratif dari sebuah transkrip video, disajikan ulang menjadi artikel informatif tanpa sensasi dan tanpa unsur promosi apa pun.

Daftar Isi
ToggleAwal Cerita: Sosok Pelaku dan Latar Belakangnya
Pelaku bernama Nurma Andika Fauzi, akrab disapa Dika, seorang pria muda asal Kulon Progo. Ia telah menikah dan memiliki tiga anak. Di lingkungan tempat tinggalnya, Dika dikenal ramah, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman lintas gender. Namun di balik itu, tersimpan sisi gelap yang telah lama tumbuh.
Sejak muda, Dika dikenal percaya pada praktik pesugihan, khususnya ritual penggandaan uang dan emas. Kepercayaan ini tidak berhenti meski beberapa kali gagal. Catatan kriminalnya pun sudah ada: pada 2018, ia pernah dipenjara selama delapan bulan karena kasus pencurian.
Usai bebas pada 2019, Dika sempat mencoba hidup normal. Ia bekerja di sebuah koperasi simpan pinjam di wilayah Wates. Di sanalah ia mulai berinteraksi dengan korban pertamanya.
Korban Pertama: Desi Sri Diantari
Hubungan Awal dan Utang Kecil yang Berujung Maut
Desi Sri Diantari, atau Desi, bekerja di sebuah toko optik di dekat tempat kerja Dika. Hubungan mereka awalnya sebatas pertemanan biasa. Pada Januari 2021, Desi meminjam uang secara pribadi kepada Dika sebesar Rp450.000, dengan janji akan mengembalikan setelah gajian.
Masalah muncul ketika Desi pindah kerja dan sulit dihubungi. Di saat bersamaan, Dika kembali tergoda ritual pesugihan dan membutuhkan uang dalam jumlah besar. Dari sinilah niat jahat mulai terbentuk.
Hari Kejadian: 23 Maret 2021
Pada pagi hari, Desi pamit kepada keluarganya untuk mencari pekerjaan, menggunakan motor milik ayahnya. Ia berjanji pulang sebelum pukul 09.00. Desi bertemu Dika di Alun-Alun Wates. Setelah membahas utang, Dika membujuk Desi untuk ikut ke Waduk Sermo.
Di tengah perjalanan, Dika berhenti di warung, membeli minuman dan makanan ringan, lalu mencampurkan obat ke dalam minuman soda. Mereka kemudian menuju bangunan terbengkalai Wisma Sermo Asri.
Di lokasi sepi tersebut, Desi mulai merasa pusing dan lemas. Saat diminta melunasi utang dan menyatakan tidak memiliki uang, terjadi pertengkaran. Dika kemudian membenturkan kepala Desi ke dinding berkali-kali hingga tewas.
Setelah Pembunuhan: Jejak yang Disembunyikan
Dika mengambil:
-
Motor dan STNK
-
Ponsel
-
Perhiasan
Identitas Desi dimasukkan ke dalam tas dan dibuang ke sungai di wilayah Bagelen. Motor dijual di Magelang, ponsel dan perhiasan dilepas dengan harga murah. Uang hasil kejahatan tersebut kemudian digunakan untuk menjalani ritual penggandaan uang.
Sore harinya, jasad Desi ditemukan warga. Tanpa identitas, polisi melakukan penyelidikan intensif.
Korban Selamat Pertama: C
Beberapa hari kemudian, Dika berencana kabur ke Sumatra. Untuk biaya, ia menargetkan korban baru. Seorang teman perempuan berinisial C hampir menjadi korban.
Dika mengajak C jalan-jalan, menginap di hotel, dan kembali mencoba modus makanan/minuman yang dicampur zat kimia. Namun C curiga karena bau dan rasa makanan yang tidak normal. Telepon dari ibunya yang mendesak pulang menjadi penyelamat. C selamat.
Korban Kedua: Takdir Sunariati
Target yang Dianggap “Aman”
Tak lama setelah gagal dengan C, Dika menargetkan Takdir Sunariati, teman dekatnya yang merupakan penyandang disabilitas dengan kaki kiri palsu. Takdir sudah menganggap Dika seperti keluarga.
Pada 2 April 2021, mereka pergi ke kawasan pelabuhan. Dengan modus yang sama, Dika mencampur obat ke minuman. Saat Takdir melemah, Dika menyeret tubuhnya ke dermaga wisata Pantai Glagah yang sepi dan menghabisi nyawanya dengan membenturkan kepala ke dinding.
Motor dan ponsel Takdir diambil. Jasadnya ditinggalkan di bangunan dermaga.
Baca Juga Kasus Sebelumnya :
Kasus Kriminal Indonesia : Ritual Kesaktian Calon Dukun yang Berujung Tragedi
Penemuan Jasad dan Titik Balik Penyelidikan
Dalam waktu kurang dari satu minggu, dua perempuan ditemukan tewas:
-
Sama-sama di bangunan terbengkalai
-
Sama-sama kehilangan motor dan ponsel
-
Sama-sama ditemukan zat kimia dalam tubuh
-
Sama-sama mengalami luka berat di kepala
Polisi menyimpulkan adanya pelaku tunggal dengan pola yang konsisten. Nama “Dika” muncul dari dua jalur berbeda: keterangan teman Desi dan keluarga Takdir.
Penangkapan dan Pengakuan
Polisi bergerak cepat. Enam jam setelah jasad Takdir ditemukan, Dika berhasil ditangkap di rumah kerabatnya di wilayah Pengasih. Dalam pemeriksaan, ia mengakui seluruh perbuatannya, termasuk upaya pembunuhan terhadap korban lain yang selamat.
Proses Hukum dan Putusan
Dika diadili di Pengadilan Negeri Wates. Karena situasi pandemi, sidang dilakukan secara daring. Ia dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan motif penguasaan harta.
Pada 28 Maret 2022, majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Dika kembali ke Rutan Wates—kali ini bukan sebagai pencuri, melainkan pembunuh berantai.
Pelajaran dari Tragedi
Kasus ini menjadi cermin keras bahwa:
-
Kepercayaan terhadap jalan pintas kekayaan dapat berujung kehancuran
-
Modus kejahatan sering berawal dari lingkar pertemanan
-
Kewaspadaan sering dianggap berlebihan, hingga terlambat
Dua nyawa melayang, beberapa nyaris menyusul. Tragedi Kulon Progo ini layak dikenang bukan untuk menakuti, melainkan sebagai peringatan agar nalar, kewaspadaan, dan kemanusiaan selalu didahulukan.
About the Author
fara quenze
Administrator
NationSpy adalah organisasi non-profit dan non-governmental yang berfokus pada pengembangan pengetahuan, diskusi, dan literasi publik di bidang intelijen negara. Organisasi ini dibangun sebagai ruang independen bagi individu yang memiliki ketertarikan pada studi intelijen, keamanan nasional, geopolitik, analisis strategis, dan dinamika global.