Kasus Kriminal Indonesia : Ritual Kesaktian Calon Dukun yang Berujung Tragedi
Kasus kriminal indonesia ini pernah mengguncang Riau dan meninggalkan luka yang sulit dipulihkan. Serangkaian pembunuhan dilakukan bukan karena ledakan emosi atau kebutuhan ekonomi mendesak, melainkan karena keyakinan buta terhadap mitos kesaktian. Pelakunya, Muhammad Delfi, percaya bahwa dirinya bisa mewarisi ilmu kebal dan kemampuan supranatural dengan memenuhi “syarat ritual” yang kejam dan tidak masuk akal.
Perkara ini berakhir di pengadilan dengan vonis hukuman mati. Saat kronologi dibacakan, ruang sidang disebut berubah hening. Hakim bahkan tak kuasa menahan tangis karena detail kejahatan yang begitu mengerikan—terutama karena sebagian besar korban masih anak-anak.

Daftar Isi
ToggleLatar Belakang Pelaku
Muhammad Delfi adalah anak dari seorang dukun yang dikenal dan dihormati di Perawang. Ayahnya dipercaya memiliki kemampuan supranatural: kebal senjata, mampu “melihat” hal gaib, serta sering diminta mengobati warga. Praktik tersebut menjadi sumber penghidupan keluarga.
Delfi putus sekolah sejak SMP. Ia dikenal pendiam, tertutup, sering melamun, dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Sejak remaja, ia kerap dilibatkan dalam ritual, termasuk dimandikan dengan air dari tujuh mata air yang dicampur kembang tujuh rupa. Ayahnya meyakini Delfi sebagai penerus ilmu tersebut.
Namun ada satu syarat yang dianggap mutlak: Delfi harus mengumpulkan tujuh alat kelamin dari laki-laki yang masih sehat sebagai “mahar” penurunan kesaktian.
Tekanan Hidup yang Memperkuat Obsesi
Pada awalnya, Delfi menganggap syarat itu terlalu berat. Namun realitas hidup perlahan mendorongnya ke jurang yang lebih dalam.
Beberapa faktor yang memperkuat obsesinya antara lain:
-
Pendidikan rendah dan minim peluang kerja
-
Ketergantungan pada citra ayah sebagai sosok berpengaruh
-
Keyakinan bahwa ilmu kesaktian adalah satu-satunya jalan hidup
-
Tidak adanya figur penyeimbang atau kontrol sosial yang kuat
Pada 2010, ibunya meninggal dunia. Ayahnya jatuh sakit dan kembali ke Bengkalis. Delfi sempat tinggal bersama kakaknya dan membantu berjualan sate, tetapi ambisi untuk memenuhi syarat ritual tidak pernah benar-benar padam.
Puncaknya terjadi pada awal 2013.
Korban Pertama: Awal Rangkaian Kejahatan
Korban pertama adalah seorang anak laki-laki berusia lima tahun bernama Febrian. Anak tersebut sering bermain di sekitar lokasi Delfi berjualan sate. Dengan bujuk rayu, Delfi mengajak korban ke area semak-semak yang sepi, menghabisi nyawanya, lalu mengambil bagian tubuh yang diyakini sebagai syarat ritual. Tubuh korban dikubur seadanya.
Keluarga korban mencari selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, tanpa hasil. Delfi tidak dicurigai dan justru pindah ke daerah lain.
Pola Kejahatan yang Terulang
Setelah itu, kejahatan Delfi tidak berhenti. Lokasi berpindah, tetapi polanya tetap sama.
Secara garis besar, modus yang berulang meliputi:
-
Mendekati korban yang rentan (anak-anak atau individu dengan keterbatasan mental)
-
Mengajak dengan dalih bermain, memancing, atau membeli jajanan
-
Membawa korban ke lokasi sepi
-
Menghabisi nyawa dan menghilangkan jejak secara seadanya
Dalam periode 2013–2014, jumlah korban terus bertambah. Hingga akhirnya Delfi meyakini dirinya telah mengumpulkan tujuh “syarat” yang dianggap cukup untuk menjalankan ritual puncak.
Titik Balik: Kejahatan yang Terbongkar
Kesalahan fatal terjadi saat Delfi bekerja sama dengan Sufyan, seorang pria yang dijanjikan upah untuk membantu mencari korban. Ketika Delfi tidak mampu membayar, muncul rencana yang jauh lebih keji: menjual daging korban sebagai daging sapi.
Korban terakhir dimutilasi. Daging dan jeroannya dijual ke warung serta rumah makan di sekitar desa. Tidak ada pembeli yang curiga saat itu, meski beberapa mengaku tekstur daging terasa “tidak biasa”.
Hilangnya korban terakhir memicu kegaduhan besar. Kasus kriminal anak hilang yang berulang membuat warga mulai waspada. Kesaksian warga yang melihat Delfi dan Sufyan membawaseorang anak dengan sepeda motor menjadi titik terang bagi polisi.
Penangkapan dan Pengakuan
Polisi menangkap Delfi dan Sufyan hanya beberapa hari setelah kejadian terakhir. Dalam pemeriksaan, Delfi mengakui seluruh perbuatannya dan menunjukkan lokasi penguburan para korban. Semua korban ditemukan dalam kondisi tinggal tulang-belulang.
Pengakuan tentang penjualan daging korban membuat masyarakat shock—terutama keluarga korban dan para pembeli yang tanpa sadar telah mengonsumsinya.
Vonis dan Dampak Sosial
Pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada para pelaku utama dengan pasal berlapis. Kasus kriminal indonesia ini meninggalkan trauma mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat luas dan lengkap dibahas di nationspy.com
Tragedi ini menjadi peringatan keras tentang:
-
Bahaya kepercayaan buta terhadap mitos
-
Minimnya literasi dan kontrol sosial
-
Rentannya anak-anak dan kelompok marginal
-
Dampak fatal ketika kekerasan dibungkus legitimasi “ilmu”
Kasus ini bukan sekadar catatan kriminal, melainkan cermin betapa pentingnya pendidikan, kesehatan mental, dan perlindungan terhadap kelompok rentan agar tragedi serupa tidak pernah terulang.
About the Author
fara quenze
Administrator
NationSpy adalah organisasi non-profit dan non-governmental yang berfokus pada pengembangan pengetahuan, diskusi, dan literasi publik di bidang intelijen negara. Organisasi ini dibangun sebagai ruang independen bagi individu yang memiliki ketertarikan pada studi intelijen, keamanan nasional, geopolitik, analisis strategis, dan dinamika global.